Organ reproduksi wanita
dibedakan menjadi organ reproduksi luar dan organ reproduksi dalam.
1)
Organ reproduksi luar
Organ reproduksi luar terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut:
a)
Labia mayor (bibir luar vagina yang tebal) berlapiskan lemak.
b)
Mons veneris, pertemuan antara kedua bibir vagina dengan bagian atas yang
tampak membukit.
c)
Labia minor (bibir kecil), yaitu sepasang lipatan kulit yang halus dan tipis,
tidak dilapisi lemak.
d)
Klitoris, tonjolan kecil disebut juga kelentil.
e)
Orificium urethrae (muara saluran kencing), tepat dibawah klitoris.
f)
Himen (selaput dara), berlokasi dibawah saluran kencing yang mengelilingi
lubang vagina.
2)
Organ reproduksi dalam
Organ reproduksi dalam terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut:
a)
Indung telur (ovarium)
Ovarium berjumlah sepasang dan terletak dirongga perut, yaitu di daerah
pinggang kiri dan kanan. Ovarium diselubungi oleh kapsul pelindung dan
mengandung beberapa folikel. Tiap folikel mengandung satu sel telur yang
diselubungi oleh satu atau lebih lapisan sel-sel folikel. Folikel adalah
struktur seperti bulatan-bulatan yang mengelilingi oosit dan berfungsi
menyediakan makanan dan mlindungi perkembangan sel telur.
b)
Oviduk (tuba fallopi)
Oviduk berjumlah sepasang. Saluran oviduk menghubungkan ovarium dengan rahim
(uterus). Ujung oviduk berbentuk corong berjumbai-jumbai (fimbriae). Fibriae
berfungsi menangkap ovum. Setelah ovum ditangkap oleh fibriae, kemudian
diangkat oleh bagian oviduk yang menyempit dengan gerak peristaltik dinding
tuba menuju ke rahim.
c)
Uterus (rahim)
Pada manusia, rahim hanya satu ruang dan berotot serta tebal. Pada wanita yang
belum pernah melahirkan, ukuran rahim biasanya panjangnya 7 cm dan lebarnya 4-5
cm. Rahim bawah mengecil dan dinamakan leher rahim (serviks uteri) sedangkan
bagian yang besar disebut badan rahim (korpus uteri). Rahim tersusun atas tiga
lapisan, yaitu perimetrium, miometrium, dan endometrium.
Endometrium menghasilkan banyak lendir dan mengandung banyak pembuluh darah.
Lapisan inilah yang mengalami penebalan yang akan mengelupas setiap bulannya
bila tidak ada zigot (sel telur yang telah dibuahi) yang ditanamkan
(implantasi).
d)
Vagina
Vagina ialah sebuah
tabung berlapiskan otot yang membujur ke arah belakang dan atas. Dinding vagina
lebih tipis daripada rahim dan banyak memiliki lipatan. Hal ini untuk
mempermudah jalan kelahiran bayi. Vagina juga memiliki lendir yang dihasilkan
oleh dinding vagina dan kelenjar Bartholin.
Proses pembentukan sel telur disebut
oogenesis, proses ini berlangsungdi dalam ovarium (indung telur). Sel telur
berasal dari sel induk telur yangdisebut oogonium. Dalam oogonium, terkandung
kromoson sebanyak 23pasang. Sel-sel oogonium ini bersifat diploid. Di dalam ovarium
ini, sel-seloogonium membelah secara mitosis. Sel-sel oogonium (oosit primer) terbentuk sejak bayi lahir. Saat pubertas,
oosit primer melakukan pembelahan meiosis menghasilkan oosit sekunder dan badan
polar pertama (polosit primer). Proses ini terjadi dibawah pengaruh FSH (Follicle
Stimulating Hormone).
Oosit sekunder
dikelilingi oleh folikel. Oosit yang terus berkembang, lama– kelamaan akan
dipisahkan dari folikel-folikel disekelilingnya oleh zona pelusida. Dibawah
pengaruh FSH, folikel-folikel ini membelah berkali-kali dan membentuk folikel
de graaf (folikel yang telah masak). Kemudian sel-sel folikel ini
memproduksi estrogen yang merangsang hipofisis untuk mensekresikan LH (Luteinizing
Hormone). LH berfungsi mendorong terjadinya ovulasi. Kemudian oosit
sekunder akan mengalami pembelahan lagi secara mitosis membentuk ootid dan
badan kutub II. Selanjutnya ootid inilah yang akan berkembang menjadi ovum.
Ovum yang dihasilkan dari proses ini hanya berjumlah satu. Agar bisa mengetahui
dengan jelas proses tersebut, Perhatikan Gambar 5.
c. Kontrol hormon pada sistem reproduksi wanita
Berjalannya sistem
reproduksi wanita tidak terjadi dengan sendirinya, namun dipengaruhi oleh
beberapa hormon. Hipotalamus akan menyekresikan hormon gonadotropin. Hormon
gonadotropin merangsang kelenjar pituitari untuk menghasilkan hormon FSH.
Hormon FSH merangsang pertumbuhan dan pematangan folikel di dalam ovarium.
Perhatikan Gambar 6.
Pematangan folikel ini
merangsang kelenjar ovarium mensekresikan hormon estrogen. Hormon estrogen
berfungsi membantu pembentukan kelamin sekunder seperti tumbuhnya payudara,
panggul membesar, dan ciri lainnya. Selain itu, estrogen juga membantu
pertumbuhan lapisan endometrium pada dinding ovarium. Pertumbuhan endometrium
memberikan tanda pada kelenjar pituitari agar menghentikan sekresi hormon FSH
dan berganti dengan sekresi hormon LH.
Oleh stimulasi hormon LH,
folikel yang sudah matang pecah menjadi korpus luteum. Saat seperti ini, ovum
akan keluar dari folikel dan ovarium menuju uterus (terjadi ovulasi). Korpus
luteum yang terbentuk segera menyekresikan hormon progesteron. Progesteron
berfungsi menjaga
Pertumbuhanendometrium
seperti pembesaran pembuluh darah dan pertumbuhan kelenjar endometrium yang
menyekresikan cairan bernutrisi.
Apabila ovum pada uterus
tidak dibuahi, hormon estrogen akan berhenti. Berikutnya, sekresi hormon LH
oleh kelenjar pituitari juga berhenti. Akibatnya, korpus luteum tidak bisa
melangsungkan sekresi hormon progesteron. Oleh karena hormon progesteron tidak
ada, dinding rahim sedikit demi sedikit meluruh bersama darah. Darah ini akan
keluar dari tubuh dan kita biasa menamakannya dengan siklus menstruasi.
d. Menstruasi
Menstruasi atau haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam
tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi
baik FSH-Estrogen atau LH-Progesteron. Periode ini penting dalam hal reproduksi.
Pada manusia,
hal ini biasanya terjadi setiap bulan antara usia remaja sampai menopause.
Selain manusia, periode ini hanya terjadi pada primata-primata
besar, sementara binatang-binatang
menyusui lainnya mengalami siklus
estrus. Menstruasi dapat diartikan sebagai luruhnya ovum yang tidak dibuahi
beserta lapisan dinding uterus yang terjadi secara periodic. Darah menstruasi
sering disertai dengan jaringan-jaringan kecil yang bukan darah. Siklus menstruasi pada
wanita terdiri atas 3 fase yaitu :
(Lihat Gambar 7).
Fase ini dikendalikan oleh hormon estrogen
maka disebut juga “fase estrogenic” fase ini dimulai pada hari ke-5 sampai hari
ke-14 dari siklus.Setiap bulan setelah haid, hipofisis anterior akan
mensekresikan FSH (Follicle Stimulating Hormon). Hormon ini berpengaruh
terhadap proses pertumbuhan dan pematangan ovum dan folikel graaf. Selama
partumbuhan folikel menjadi folikel graaf terjadi proses pembentukan dan
pengeluaran hormon estrogen. Estrogen berfungsi untuk membangun endometrium
sehingga endometrium rahim menebal hingga 5-7 cm. selain itu, estrogen juga mempengaruhi
kelenjar serviks untuk menghasilkan cairan encer.
2) Fase
sekresi (fase progesterone)
Fase ini terjadi pada hari ke-14 sampai
hari ke-28 dari siklus. Folikel graaf yang pecah pada saat ovulasi berubah
menjadi korpus rubrum yang mengandung banyak darah. Adanya LH
menyebabkan korpus rubrum berubah menjadi korpus luteum(badan
kuning).Korpus luteum mensekresikan hormon progesterone.Selama fase sekresi,
endometrium terus menebal. Arteri-arteri membesar dan kelenjar endometrium
tumbuh. Perubahan pada endometrium dipengaruhi oleh hrmon estrogen dan
progesteron yang disekresiksn oleh korpus luteum sesudah ovulasi. Jika tidak
terjadi kehamilan, maka korpus luteum akan berdegenerasi sehingga progesterone
dan estrogenmenurun bahkan sampai hilang.
3) Fase
menstruasi
Fase ini berlangsung selama 4-6 hari dalam
satu siklus. Karena hormon progesteron dan estrogen berhenti dikeluarkan, maka
endometrium mengalami degenerasi. Darah mucus, dan sel-sel epitel dikeluarkan
sebagai darah haid dari rongga uterus ke vagna. Dengan menurun dan
hilangnyaprogesteron dan estrogen, FSH aktif diproduksi lagi, dan siklus
dimulai kembali.
3. Fertilisasi dan Kehamilan
1) Fertilisasi
Fertilisasi (pembuahan)
adalah proses penyatuan gamet pria dan wanita, terjadi di ampulla tuba fallopi.
Bagian ini adalah bagian terluas dari saluran telur dan terletak dekat dengan
ovarium. Spermatozoa dapat bertahan hidup di dalam saluran reproduksi wanita
selama kira-kira 24 jam. Spermatozoa bergerak cepat dari vagina ke rahim dan selanjutnya
masuk ke dalam saluran telur. Pergerakan naik ini disebabkan oleh kontraksi
otot-otot uterus dan tuba. Perlu diingat bahwa pada saat sampai di saluran
kelamin wanita, spermatozoa belum mampu membuahi oosit. Mereka harus mengalami
kapasitasi dan reaksi akrosom. Kapasitasi adalah suatu masa penyesuaian di
dalam saluran reproduksi wanita, yang pada manusia berlangsung kira-kira 7 jam.
Selama waktu itu, suatu selubung glikoprotein dari protein-protein plasma semen
dibuang dari selaput plasma, yang membungkus daerah akrosom spermatozoa. Hanya
sperma yang mengalami kapasitasi yang dapat melewati sel korona dan mengalami
reaksi akrosom. Reaksi akrosom terjadi setelah penempelan ke zona pellusida dan
diinduksi oleh protein-protein zona. Reaksi ini berpuncak pada pelepasan
enzim-enzim yang diperlukan untuk menembus zona pelusida, antara lain akrosin
dan zat-zat serupa tripsin.
Pada fertilisasi mencakup 3 fase :
a)
Penembusan korona radiata.
b)
Penembusan zona pelusida.
c)
Fusi oosit dan membrane sel sperma
Fase 1 :
Penembusan korona radiate
Dari 200-300 juta
spermatozoa yang dicurahkan ke dalam saluran kelamin wanita,hanya 300-500 yang
mencapai tempat pembuahan. Hanya satu diantaranya yang diperlukanuntuk
pembuahan, dan diduga bahwa sperma-sperma lainnya membantu sperma yang
akanmembuahi untuk menembus sawar-sawar yang melindungi gamet wanita. Sperma
yangmengalami kapasitasi dengan bebas menembus sel korona.
Fase
2 : Penembusan zona pelusida
Zona pelusida adalah
sebuah perisai glikoprotein di sekeliling telur yangmempermudah dan
mempertahankan pengikatan sperma dan menginduksi reaksi akrosom.Pelepasan
enzim-enzim akrosom memungkinkan sperma menembus zona pelusida, sehinggaakan
bertemu dengan membrane plasma oosit. Permeabilitas zona pelusida berubah
ketikakepala sperma menyentuh permukaan oosit. Hal ini mengakibatkan pembebasan
enzim-enzim lisosom dari granul-granul korteks yang melapisi membrane plasma
oosit. Padagilirannya, enzim-enzim ini menyebabkan perubahan sifat zona
pelusida (reaksi zona) untuk menghambat penetrasi sperma dan membuat tak aktif
tempat tempat reseptor bagispermatozoa pada permukaan zona yang spesifik
spesies. Spermatozoa lain ternyata bisamenempel di zona pelusida tetapi hanya satu
yang menembus oosit.
Fase
3 : penyatuan oosit dan membrane sel
sperma
Segera setelah
spermatozoa menyentuh membrane sel oosit, kedua selaput plasma seltersebut
menyatu. Karena selaput plasma yang menbungkus kepala akrosom telah hilang pada
saat reaksi akrosom, penyatuan yang sebenarnya terjadi adalah antara selaput
oosit danselaput yang meliputi bagian belakang kepala sperma. Pada manusia,
baik kepala dan ekor spermatozoa memasuki sitoplasma oosit, tetapi selaput
plasma tertingal di permukaan oosit.Segera setelah spermatozoa memasuki oosit,
sel telur menanggapinya dengan 3 cara yang berbeda :
1.
Reaksi kortikal dan zona : sebagai akibat terlepasnya butir kortikal oosit.
a.
Selaput oosit tidak dapat ditembus lagi oleh spermatozoa lain
b.
Zona pelusida butirmengubah struktur dan komposisinya untuk mencegah penambatan
dan penetrasi sperma. Dengan cara ini terjadinya polispermi dapat dicegah.
2.
Melanjutkan pembelahan meiosis kedua. Oosit menyelesaikan pembelahan
meiosiskeduanya segera setelah spermatozoa masuk. Salah satu dari sel anaknya
hampir tidak mendapatkan sitoplasma dan dikenal sebagai badan kutub kedua, sel
anak lainnya adalah oosit definitive. Kromosomnya (22+X) tersusun di dalam
sebuah intivesikuler yang dikenal sebagai pronukleus wanita.
3.
Penggiatan metabolic sel telur. Factor penggiat diperkirakan dibawa
olehspermatozoa. Penggiatan setelah penyatuan diperkirakan untuk mengulangi
kembali peristiwa permulaan seluler dan molekuler yang berhubungan dengan awalembriogenesis.
Sementara itu,
spermatozoa bergerak maju terus hingga dekat sekali dengan pronukleuswanita.
Intinya membengkak dan membentuk pronukleus pria sedangkan ekornya terlepasdan
berdegenerasi. Secara morfologis, pronukleus wanita dan pria tidak dapat dibedakan
dansesudah itu mereka saling rapat erat dan kehilangan selaput inti mereka.
Salama masa pertumbuhan, baik pronukleus wanita maupun pria (keduanya haploid)
harus menggandakanDNA-nya. Jika tidak,masing-masing sel dalam zigot tahap 2 sel
tersebut akan mempunyaiDNA separuh dari jumlah DNA normal. Segera sesudah
sintesis DNA, kromosom tersusun dalam gelendong untuk mempersiapkan pembelahan
mitosis yang normal 23 kromosom ibu dan 23 kromosom ayah membelahmemanjang pada
sentromer, dan kromatid-kromatid yang berpasangan tersebut saling bergerak
kearah kutub yang berlawanan, sehingga menyiapkan sel zigot yang masing-masing
mempunyai jumlah kromosom dan DNA yang normal. Sementara kromatid-kromatid
berpasangan bergerak kearah kutub yang berlawanan, muncullah satu alur yang
dalam pada permukaan sel, berangsur-angsur membagi sitoplasma menjadi 2 bagian.
Hasil utama pembuahan,
yaitu:
1)
Pengembalian menjadi jumlah kromosom diploid lagi, separuh dari ayah
danseparuhnya dari ibu. Olah karena itu, zigot mengandung kombinasi kromosom
baruyang berbeda dari kedua orang tuanya.
2)
Penentuan jenis kelamin individu baru. Spermatozoa pembawa X akan
menghasilkansatu mudigah wanita (XX), dan spermatozoa pembawa Y menghasilkan
satu mudigah pria (XY). Oleh karena itu, jenis kelamin kromosom mudigah
tersebut ditentukan pada saat pembuahan.
3)
Dimulainya pembelahan. Tanpa pembuahan,oosit biasanya akan berdegenerasi 24
jamsetelah ovulasi.
Selama berhubungan
seksual jumlah semen yang diejakulasikan rata-rata adalah 3.5 mldan tiap 1 ml
semen mengandung 120 juta spermatozoon.Jumlah ini diperlukan mengingattingkat
kematian spermatoon sangat tinggi.Hanya sekitar 100 spermatozoon yang mampu
bertahan hidup untuk mendekati ovom di tuba fallofi.Sekitar 20% spermatozoon
akankehilangan kemampuan membuahi ovum ada juga yang mati karena keasaman
vagina danada juga yang tidak dapat menjangkau leher rahim.Jadi hanya beberapa
sperma saja yangmemiliki kualitas baik yang mampu menembus ovum.Ovum tidak
hanya dilapisi olehmembran plasma tetapi oleh lapisan-lapisan lain,sehingga
sperma memerlukan waktu yanglama agar dapat menembus masuk ke dalam ovum
2) Gestasi/Kehamilan
Zigot akan ditanam
(diimplantasikan) pada endometrium uterus. Dalam perjalanannya ke uterus, zigot
membelah secara mitosis berkali-kali. Hasil pembelahan tersebut berupa
sekelompok sel-sel yang sama besarnya dengan bentuk seperti buah arbei yang
disebut tahap morula.
Morula akan terus
membelah sampai terbentuk blastosit. Tahap ini disebut blastula dengan rongga
di dalamnya yang disebutblastocoel atau blastosol. Blastosit terdiri dari
sel-sel bagian luar dan sel-sel bagian dalam.
a)
Sel-sel bagian luar blastosit
Sel-sel bagian luar
blastosit merupakan sel-sel trofoblas yang akan membantu implantasi blastosit
pada uterus. Sel-sel trofoblas membentuk tonjolan-tonjolan ke arah endometrium
yang berfungsi sebagai kait. Sel-sel trofoblas juga mensekresikan enzim
proteolitik yang berfungsi untuk mencerna serta mencairkan sel-sel endometrium.
Cairan dan nutrien tersebut kemudian dilepaskan dan ditranspor secara aktif
oleh sel-sel trofoblas agar zigot berkembang lebih lanjut. Kemudian, trofoblas
beserta sel-sel lain di bawahnya akan membelah (berproliferasi) dengan cepat
membentuk plasenta dan berbagai membran kehamilan.
Berbagai macam membran
kehamilan berfungsi untuk membantu proses transportasi, respirasi, ekskresi,
dan fungsi-fungsi penting lainnya selama embrio hidup dalam uterus. Selain itu,
adanya lapisan-lapisan membran melindungi embrio terhadap tekanan mekanis dari
luar, termasuk kekeringan. Macam-macam membran kehamilan adalah sebagai
berikut:
1.
Sakus vitelinus
Sakus vitelinus atau
kantung telur adalah membran berbentuk kantung yang pertama kali dibentuk dari
perluasan lapisan endoderm (lapisan terdalam pada blastosit). Sakus vitelinus
merupakan tempat pembentukan sel-sel darah dan pembuluh-pembuluh darah pertama
embrio. Sakus vitelinus berinteraksi dengan trofoblas membentuk korion.
2.
Korion
Korion merupakan membran
terluar yang tumbuh melingkupi embrio. Embrio membentuk vili korion atau
jonjot-jonjot di dalam endometrium. Vili korion berisi pembuluh darah
embrio yang berhubungan dengan pembuluh darah ibu yang banyak terdapat di dalam
endometrium uterus. Korion dengan jaringan endometrium uterus membentuk plasenta,
yang merupakan organ pemberi nutrisi bagi embrio.
3.
Amnion
Amnion merupakan
membran yang langsung melingkupi embrio dalam suatu ruang yang berisi cairan
amnion (ketuban). Cairan amnion berfungsi menjaga embrio agar dapat bergerak
dengan bebas, juga melindungi embrio dari perubahan suhu yang drastis serta
guncangan dari luar.
4.
Alantois
Alantois merupakan
membran pembentuk tali pusar (ari-ari). Tali pusar menghubungkan embrio dengan
plasenta pada endometrium uterus ibu. Di dalam alantois terdapat pembuluh darah
yang menyalurkan zat-zat makanan dan oksigen dari ibu dan mengeluarkan sisa
metabolisme, seperti karbondioksida dan urea untuk dibuang oleh ibu.
b)
Sel-sel bagian dalam blastosit
Sel-sel bagian dalam
blastosit akan berkembang menjadi bakal embrio atau embrioblas. Pada embrioblas
terdapat lapisan jaringan dasar yang terdiri dari lapisan luar (ektoderm) dan
lapisan dalam (endoderm) . Selanjutnya, ketiga lapisan tersebut akan berkembang
menjadi berbagai organ (organogenesis) pada minggu keempat sampai kedelapan.
Kehamilan terjadi apabila
implantasi blastosit dapat dilakukan dengan sukses. Proses kehamilan pada
manusia berlangsung kira-kira 266 hari atau 38 bulan. Awalnya, blastosit
terbagi menjadi tiga bagian, antara lain tropoblas (sel-sel terluar),
embrioblas (sel-sel bagian dalam), dan blastocoel (rongga yang berisi cairan).
Tropoblas merupakan sel-sel terluar dari blastosit yang mengeluarkan enzim
proteolitik sehingga mampu terjadi implantasi pada endometrium. Sementara,
embrioblas merupakan sel-sel bagian dalam blastosit yang terdapat bintik benih
sebagai hasil pembelahan selnya. Antara tropoblas dan bintik benih dipisahkan
oleh bagian berisi cairan yang disebut selom.
Sewaktu berada di dalam
rahim, embrio ini juga selalu membelah dan mengalami perkembangan untuk
membentuk janin(fetus).Tahap blastulasi terjadi pada minggu pertama setelah
fertilisasi. Pada saat ini embrio masih sangat kecil. Walaupun dalam kurun
waktu itu ia telah terdiri atas ratusan sel-sel kecil yang berkumpul membentuk
bola kecil yang berukuran hampir sama dengan kepala jarum pentul. Pada proses
pembentukan blastula, sel-sel membelah dengan cepat dan terjadi migrasi sel di
dalam embrio, yang membentuk dua bagian utama, yaitu embrio yang nantinya
berkembang menjadi janin dan membran ekstra embrio yang nantinya membentuk
plasenta, amnion, dan tali pusar. Ketiga bagian ini berfungsi untuk menunjang
kehidupan janin, antara lain:
1.
Untuk memberikan nutrisi,
2.
Pertukaran gas, dan
3.
Menahan goncangan
Plasenta juga dapat
menghasilkan hormon-hormon tertentu, antara lain mengatur hormon kelenjar dan
relaksin yang berfungsi untuk fleksibilitas simfibis pubis dan organ-organ lain
di daerah tersebut sehingga mempermudah kelahiran. Setelah itu, dilanjutkan dengan
proses gastrulasi yang terjadi pada minggu ke-3. Pada proses gastrulasi,
jaringan sudah membentuk 3 lapisan, yaitu lapisan ektodermis, mesodermis, dan
endodermis.
Ketiga lapisan jaringan
tersebut akan mengalami diferensiasi dan spesialisasi membentuk organ dan
sistem organ.
1.
Lapisan ekstroderm akan membentuk organ-organ seperti saraf, hidung,
mata, kelenjar kulit dan berkembang menjadi jaringan epidermis.
2.
Lapisan mesoderm akan berkembang membentuk organ ginjal, limpa, kelenjar
kelamin, jantung, pembuluh darah, getah bening, tulang dan otot.
3.
Lapisan endoderm akan membentuk organ hati, pankreas, saluran
pencernaan, saluran pernapasan, kelenjar gondok, dan anak gondok.
Fase itu disebut fase organogenesis.
Fase ini terjadi pada minggu ke-4 s.d. minggu ke-8. Pada saat janin berusia 14
minggu, organ sudah terbentuk lengkap. Janin terus mengalami pertumbuhan dan
penyempurnaan pada bagian-bagian organ tubuhnya, hingga usia 9 bulan 10 hari
sebagai usia yang normal bagi bayi untuk dilahirkan. Kadar hormon estrogen pada
seorang wanita yang hamil sedikit. Hormon estrogen ini akan membantu kontraksi
uterus. Selain itu, dihasilkan pula hormon oksitosin yang fungsinya sama
seperti estrogen.
4. Persalinan
Persalinan merupakan
proses kelahiran bayi. Setelah embrio tumbuh dan berkembang menjadi bayi yang
sempurna, proses dilanjutkan dengan persalinan.Pada persalinan, uterus secara
perlahan menjadi lebih peka sampai akhirnya berkontraksi secara berkala hingga
bayi dilahirkan. Penyebab peningkatan kepekaan dan aktivitas uterus sehingga
terjadi kontraksi dipengaruhi faktor-faktor hormonal dan faktor-faktor mekanis.
Persalinan atau kelahiran terjadi akibat
serangkaian kontraksi uterus yang kuat dan berirama. Prosesnya terjadi dalam
tiga tahap, yaitu :
a) Tahap pertama, dimulai
dengan pembukaan dan pemipihan serviks (leher rahim), kemudian
dilanjutkandengan dilatasi sempurna.
b) Tahap kedua, yakni ekspulsi
atau pengeluaran bayi. Adanya kontraksi yang kuat dan terus menerus
mengakibatkan bayi mulai turun dari uterus menuju vagina.
c) Tahapan terakhir
adalah keluarnya bayi yang berplasenta. Plasenta bayi ini akan dipotong dan
dijepit sehingga menjadi pusar.
Ada beberapa hormon yang berperan pada
proses kelahiran bayi. Hormon tersebut meliputi hormon relaksin, estrogen,
prostaglandin, dan oksitosin. Hormon relaksin diproduksi oleh korpus luteum dan
plasenta. Fungsi hormon ini adalah melunakkan serviks dan melonggarkan tulang
panggul saat terjadi kelahiran. Hormon estrogen dihasilkan oleh plasenta dengan
fungsi menurunkan jumlah hormon progesteron sehingga kontraksi dinding rahim
bisa berlangsung. Hormon prostaglandin dihasilkan oleh membran ekstraembrionik
dengan fungsi meningkatkan kontraksi dinding rahim. Sedangkan hormon oksitosin dihasilkan
oleh kelenjar hipofisis ibu dan janin. Fungsinya juga meningkatkan kontraksi
dinding rahim.
5. Air Susu Ibu/ASI
Air susu ibu dihasilkan oleh kelenjar susu
pada payudara seorang wanita yang dapat memproduksi, biasanya dihasilkan
setelah kehamilan tua atau setelah melahirkan.
a) Struktur
dan Fisiologi Payudara
Semua mamalia memiliki kelenjar mammae.
Payudara manusia berbentuk kerucut, dan memanjang dari iga kedua atau ketiga
sampai iga keenam atau ketujuh.Payudara mempuyai jaringan kelenjar, duktus,
jaringan buluh limfe. Jaringan kelenjarnya terdiri atas 15-25 lobus,
masing-masing bermuara ke dalam duktus ekskretorius tersendiri yang berakhir di
puting susu. Tiap duktus melebar ketika memasuki basis puting susu untuk
membentuk sinus susu. Sinus ini berfungsi sebagai reservoir susu selama masa
menyusui. Tiap lobus dibagi lagi menjadi 50-75 lobulus yang bermuara ke dalam
suatu duktus yang mengalirkan isinya ke dalam duktus ekskretorius lobus itu.
Puting susu dan areola mengandung otot polos
yang berfungsi menyempitkan areola dan menekan puting susu. Kontraksi otot
polos membuat puting susu tegak dan keras, dengan demikian akan mempermudah
pengosongan sinus susu.
Kulit puting susu dan areola berpigmen
banyak dan tidak berambut, tetapi kadang-kadang ditemui pada areola mengandung
folikel rambut.Perubahan fisiologis pada payudara disebabkan oleh faktor-faktor
berikut.
a. Pertumbuhan dan proses
penuaan.
b. Daur haid.
c. Kehamilan
Menyusui menimbulkan impuls saraf yang
berjalan ke hipotalamus.Hipotalamus merangsang hipofisis anterior untuk
mensekresikan prolaktin,yang bekerja pada jaringan kelenjar payudara untuk
menghasilkan air susu.
Hipotalamus juga merangsang hipofisis
posterior untuk menghasilkan oksitosin yang merangsang sel-sel otot di
sekitar jaringan kelenjar untuk berkontraksi dan mendorong air susu masuk ke
dalam sistem ductus
|
Pada masa kehamilan, payudara wanita
menjadi lebih penuh dan keras. Areola lebih gelap dan puting susu menegak
ketika membesar. Ketika memasuki trisemester ketiga akan timbul kresi
kekuning-kuningan yang disebut kolostrum. Setelah lahirnya anak, jika ibu
tersebut menyusui dalam 24 jam, sekresi kolostrum berhenti dan mulai timbul
sekresi air susu ibu (ASI). Selama menyusui, payudara membesar. Proses kendali
neuroendokrin payudara dapat diuraikan sebagai berikut.
b) Manfaat
Air Susu Ibu (ASI)
Pada proses kehamilan
yang normal, setelah janin ber-usia 9 bulan 10 hari, akan dilahirkan. Setelah
lahir, bayi akan memasuki masa pertumbuhan pasca kelahiran.
Ketika baru saja
dilahirkan, bayi sudah memerlukan makanan, akan tetapi tidak setiap makanan
bisa diberikan pada bayi, sebab bayi membutuhkan makanan khusus dan makanan itu
sudah disediakan oleh ibunya, yakni (ASI)air susu ibu.
Air susu ibu (ASI)
mempunyai peranan yang penting bagi seorang bayi, yaitu untuk menjaga kesehatan
dan mempertahankan kelangsungan hidup bayi.Ketika seorang bayi berusia di bawah
4 bulan, mereka belum diberikan makanantambahan, karena pencernaannya masih
halus sekali sehingga bayi hanya memerlukan makanan khusus yang berbentuk cair,
yaitu susu.
ASI mengandung zat gizi
yang diperlukan untuk pertumbuhan dan sangat sesuai dengan pencernaan bayi.
Keutamaan ASI lainnya adalah bebas bakteri dan dapatmemberikan kekebalan pasif
pada bayi, serta dapat mengurangi resiko bayi terkena infeksi.
Pemberian ASI saja pada
bayi yang berumur di bawah 4 tahun ini disebut pem-berian ASI eksklusif. Ini
merupakan salah satu cara untuk mencapai sasaran kesejah-teraan ibu dan anak.
Tetapi dalam praktik-nya ternyata di Indonesia pada saat ini perilaku pemberian
ASI eksklusif belum seperti yang diharapkan, padahal pemerintah sudah
mencanangkan program pemberian ASI eksklusif sejak tahun 1990. Faktor-faktor
yang menyebabkan seorang ibu kurang bisa memberikan ASI terhadap bayinya,
antara lain karena kesibukan kerja, hilangnya kepercayaan diri, kurangnya
penerangan, dan sosialisasi.
c)
Kebaikan ASI sebagai makanan bayi
ASI mengandung hampir
semua zat gizi yang diperlukan oleh bayi dengan komposisi yang sesuai dengan
kebutuhan bayi. ASI mengandung kadar laktosa tinggi. Laktosa dalam usus akan
mengalami peragian hingga membentuk asam laktat. Asam laktat dalam susu bayi
bermanfaat untuk :
1.
Menghambat pertumbuhan bakteri yang patogen
2.
Menghambat pertumuhan mikroorganisme yang dapat menghasilkan berbagai asam
organik dan mensintesis beberapa jenis vitamin dalam usus.
3.
Memudahkan terjadinya pengendapan calsium caseinate (protein susu)
4.
Memudahkan penyerapan berbagai jenis mineral, seperti kalsium, fosfor, dan
magnesium.
5.
ASI tidak mengandung bibit penyakit, justru mengandung zat penolak untuk
melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi. Zat kekebalan yang terdapat
dalam ASI antara lain laktoferin, dan antibodi yang dapat melingdungi anak dari
bakteri, virus, dan jamur.
6.
ASI lebih aman terhadap kontaminasi, karena ASI diberikan langsung, maka
kemungkinan tercemar zat yang berbahaya lebih kecil.
7.
Resiko alergi pada bayi sangat kecil.
8.
Temperatur ASI sesuai dengan temperatur tubuh bayi .
9.
Pemberian ASI dapat mempererat hubungan kasih sayang antara ibu dan bayinya.
10. Bayi yang
menyusu pada ibunya, memiliki pertumbuhan geraham lebih baik.
11. Bentuk payudara
ibu memungkinkan bayi menyusu tanpa tersedak.
ASI yang dihasilkan pada
hari pertama sampai hari ketiga atau keempat setelah persalinan disebut
kolostrum. Setelah hari keempat sampai kira-kira minggu kelima disebut air susu
peralihan. Setelah minggu kelima dan seterusnya, ASI yang diproduksi mempunyai
komposisi zat gizi yang tetap.
Kolostrum berwarna lebih
kuning dan lebih kental daripada ASI. Kolostrum berkhasiat membersihkan saluran
pencernaan dari mukoneum (kotoran yang terdapat dalam saluran pencernaan
janin). Selain itu, kolostrum juga merangsang kematangan mukosa usus sehingga
saluran pencernaan siap untuk mencerna ASI.
ASI memiliki kandungan
gizi lengkap, baik makronutrien seperti protein, lemak, karbohidrat, maupun
mikronutrien yaitu vitamin dan mineral. Mineral yang terdapat dalam ASI sama
dengan yang terkandung dalam kolostrum, hanya kadarnya lebih rendah.
Keuntungan lain dari
pemberian ASI adalah praktis, karena dapat diberikan kapan saja, dimana saja
dalam keadaan segar dengan suhu yang sesuai dengan suhu tubuh bayi, higienis,
dan ekonomis.







